PERKUAT EKONOMI INDONESIA 2026

Indonesia memasuki 2026 dengan keyakinan yang kian kokoh terhadap daya tahan ekonominya dengan pertumbuhan yang stabil di kisaran 5,0 hingga 5,4 persen.

PRESS RELEASE

1/6/20263 min read

Memperkuat industri penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026

Indonesia memasuki 2026 dengan keyakinan yang kian kokoh terhadap daya tahan ekonominya. Proyeksi pertumbuhan yang stabil di kisaran 5,0 hingga 5,4 persen menjadi sinyal bahwa konsumsi domestik dan investasi sektor riil masih akan menjadi penggerak utama perekonomian nasional.

Pemerintah, melalui kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal menegaskan arah kebijakan yang mendorong penguatan konsumsi rumah tangga, investasi, dan keberlanjutan reformasi struktural.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa stabilitas ini penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap inklusif dan berkesinambungan. Optimisme serupa datang dari dunia usaha. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran yang sama, yakni 5,0 hingga 5,4 persen. Menurut Apindo, konsumsi domestik akan tetap menjadi penopang utama, terutama pada awal tahun, ketika aktivitas ekonomi meningkat seiring momentum hari besar keagamaan.

Di sisi lain, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menegaskan bahwa stabilitas ekonomi makro yang terjaga akan memperkuat iklim usaha nasional. Kadin memandang, selama sinergi kebijakan antara pemerintah dan dunia usaha terus dipelihara, pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen adalah target yang realistis.

Dalam lanskap tersebut, sektor manufaktur, khususnya industri makanan dan minuman, dipandang sebagai motor penting. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman menilai bahwa permintaan terhadap produk makanan dan minuman masih bertumbuh seiring meningkatnya konsumsi masyarakat serta kesadaran yang lebih tinggi terhadap kualitas dan keamanan produk.

Industri air

Di tengah perubahan gaya hidup, urbanisasi, dan ritme kerja yang semakin dinamis, kebutuhan terhadap produk yang praktis, higienis, dan mudah diakses akan terus meningkat. Industri air minum dalam kemasan (AMDK) menjadi bagian strategis dalam rantai tersebut. Air minum yang aman dan terjamin mutunya merupakan kebutuhan dasar masyarakat modern.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Air Kemasan Nusantara (AMDATARA) Karyanto Wibowo menyebut 2026 sebagai periode krusial bagi industri AMDK. Hal itu, karena pertumbuhan ekonomi yang stabil harus diikuti dengan peningkatan efisiensi produksi, penguatan rantai pasok, dan inovasi produk.

AMDATARA hadir sebagai wadah kolaborasi produsen air kemasan untuk membangun industri yang berdaya saing, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Asosiasi ini juga memosisikan diri sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Dari sisi kebijakan industri, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa sektor makanan dan minuman merupakan salah satu tulang punggung industri pengolahan nonmigas. Pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas produksi, penerapan standar mutu, serta transformasi industri menuju praktik yang lebih berkelanjutan.

Senada dengan itu, Airlangga Hartarto menekankan pentingnya penguatan permintaan domestik, peningkatan daya saing industri nasional, dan penciptaan iklim investasi yang kondusif sebagai faktor kunci menjaga momentum ekonomi pada 2026.

Jika melihat rekam jejaknya, industri AMDK Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang relatif konsisten dalam satu dekade terakhir. Faktor pendorongnya, antara lain pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya akses air minum yang aman.

Kinerja positif

Pada 2025, industri ini mencatat kinerja yang positif, stabil, dan resilien. Perannya dalam menopang subsektor makanan dan minuman terlihat jelas sebagai bagian dari subsektor makanan dan minuman yang merupakan kontributor utama industri pengolahan nonmigas

Saat ini, terdapat sekitar 707 pabrik AMDK, dengan kapasitas terpasang sekitar 47 miliar liter per tahun. Tingkat utilisasi industri berada di atas 70 persen dan menyerap sekitar 46 ribu tenaga kerja langsung. Daya saing industri juga diperkuat melalui penerapan standar mutu, dengan 1.348 sertifikat SNI yang aktif. Di saat yang sama, kontribusi ekspor menunjukkan pertumbuhan, sementara sejumlah pelaku industri mulai memasuki fase transformasi menuju Industri 4.0.

Seluruh capaian tersebut menunjukkan bahwa industri ini tidak hanya mengikuti arus pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berperan aktif dalam mendorong stabilitas industri manufaktur nasional. Ke depan, aspek keberlanjutan, ekonomi sirkular, serta pengelolaan sumber daya air menjadi isu strategis yang perlu terus diperkuat. Tantangan seperti efisiensi energi, pengelolaan kemasan, dan kepatuhan terhadap standar mutu dapat menjadi pendorong inovasi, sekaligus faktor pembeda daya saing.

Di sinilah pentingnya sinergi antara pemerintah, pelaku industri, asosiasi, dan masyarakat untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan beriringan dengan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan sosial. Dengan proyeksi ekonomi nasional yang tetap solid, dukungan kebijakan pemerintah, dan penguatan kelembagaan di tingkat asosiasi, industri AMDK memiliki peluang besar untuk terus tumbuh pada 2026.

Wadah asosiasi disarankan untuk diperkuat, demi memberikan ruang konsolidasi bagi pelaku usaha agar lebih siap menghadapi dinamika global, meningkatkan efisiensi, serta memperluas kontribusi terhadap perekonomian. Bila momentum ini dikelola dengan baik, industri air minum dalam kemasan tidak hanya menjadi sektor bisnis yang tangguh, tetapi juga bagian penting dari ekosistem ekonomi nasional yang mendorong pemerataan, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Optimisme yang muncul bukanlah tanpa dasar. Pertumbuhan yang stabil, konsumsi domestik yang kuat, dan arah kebijakan industri yang jelas merupakan fondasi bagi pengembangan sektor-sektor strategis, termasuk air minum. Dengan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, standar mutu, dan keberlanjutan sumber daya, 2026 dapat menjadi tahun penguatan posisi industri air minum dalam kemasan sebagai bagian integral dari ekonomi Indonesia yang sehat, tangguh, dan berorientasi masa depan.

#AsosiasiAMDK #AMDATARA #AMDKNusantara #AirMinumDalamKemasan #AMDKIndonesia